RSS Feed
Dunia Anak Kita
image

Indah Setyowati

image
Artikel Terbaru
Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Ketika Si Kecil Bertengkar

K alau disikapi dengan cara yang tepat, si kecil justru belajar banyak dari pertengkaran dengan saudaranya.

A nak balita juga sering berbeda pendapat, berbeda pandangan, dan berbeda pemahaman baik dengan saudaranya ataupun dengan temannya. Baik sang kakak, maupun adik. Apalagi sifat mau menang sendirinya masih kuat sehingga sulit diberi pengertian. Akhirnya bertengkarlah mereka.

Pertengkaran seperti itu tentu saja harus disikapi dengan tepat agar anak-anak dapat menarik pelajaran dari pertengkaran ini. Jadi, kehadiran orangtua bukan semata-mata bertujuan meredakan kegaduhan atau malah balik memarahi anak. Salah penanganan, anak akan berkembang menjadi pribadi yang lemah, tidak punya keberanian, tidak bisa membuat keputusan sendiri, mudah terpengaruh lingkungan, labil, dan kurang percaya diri.

Nah, seperti apa menyikapi pertengkaran anak dengan cara yang tepat itu? Inilah langkah-langkahnya:

1. Tidak terpancing emosi.

Siapa tahu memang tujuan si anak adalah memancing emosi orangtua, karena itu bersikaplah tenang. Sembunyikan rasa kesal dan emosi yang akan muncul, apalagi jika dalam kondisi capek. Begitu pun pada pengasuh di rumah, mintalah bersikap tenang dan tak terpancing emosi kala anak-anak sedang bertengkar. Berpikirlah bahwa mereka tengah belajar menyelesaikan konfliknya.

2. Leraikan/pisahkan anak jika terjadi kekerasan.

Bila pertengkarannya sampai pukul-memukul atau saling jambak rambut dan kekerasan lainnya, segera pisahkan keduanya. Tapi kalau bertengkarnya hanya sekadar debat mulut, orangtua cukup mengawasi dengan tetap diam. Setelah selesai bertengkar barulah dibahas bersama masalah bertengkarnya tadi.

3. Ajak bicara anak.

Setelah anak dileraikan atau bisa juga ketika si anak sudah selesai bertengkarnya dan agak tenang, minta masing- asing untuk duduk dan bicara di antara mereka tentang apa yang jadi masalah atau penyebabnya. Lakukan dialog. Di sini orangtua bersikap sebagai wasit yang hanya mengawasi dan membantu mengarahkan saja bagaimana kedua anak membahas masalah pertengkaran mereka.

4. Tidak mengintervensi.

Ketika anak bertengkar, orangtua jangan mengintervensi. Hindari intervensi semacam ini karena orangtua belum tahu masalahnya. Jika orangtua selalu mengintervensi, berusaha mendamaikan anak, menentukan yang salah dan yang benar, membuatkan keputusan, maka anak takkan belajar untuk mencari jalan keluar dari konflik yang dihadapinya, juga tidak belajar mengambil keputusan sendiri. Jadi, biarkan saja anak saling mengungkapkan pendapatnya dan memperdebatkannya.

5. Beri arah dan penguatan untuk solusinya.

Selama antaranak mendebatkan masalahnya, orangtua tetap membantu memberikan arahan akan keputusan dari penyelesaian konfliknya. Jadi, orangtua sebatas memberikan penjelasan dan mengarahkan saja. Biarkan anak yang menentukan apa yang mau dia lakukan.

TANGANI KONFLIK

Bila anak kerap bertengkar dan orangtua menyikapinya dengan langkah-langkah di atas secara konsisten, maka anak pun lama-lama akan belajar menyelesaikan konflik yang ada. Efek selanjutnya, pertengkaran yang kerap muncul lama-lama akan berkurang dan anak menemukan alternatif penyelesaian masalah tanpa bertengkar. Anak-anak bisa kok dilatih cara seperti ini.

Jadi, apabila pertengkaran anak disikapi dengan cara yang tepat, justru akan menjadi suatu pembelajaran bagi anak. Ketahuilah, bertengkar sebetulnya merupakan tingkat sosialisasi tertinggi antarsaudara. Mengapa? Karena merupakan proses saling mengenal dan memahami pribadi masing-masing.

Melalui bertengkar, anak juga belajar menyelesaikan masalah. Ingatlah, pertengkaran antarsaudara pada dasarnya merupakan masalah anak, bukan masalah orangtua. Itulah mengapa, ketika anak bertengkar, orangtua dianjurkan tidak ikut campur ataupun intervensi. Orangtua hanya membantu mengarahkan anak untuk mengatasi konflik yang terjadi dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Di sini anak belajar bagaimana caranya menyelesaikan masalah saat terjadi konflik. Pembelajaran ini merupakan suatu keterampilan sosial yang berguna bagi anak saat dewasa nanti. Jika ia berselisih paham dengan orang lain, ia akan tahu bagaimana harus bersikap dan mencari jalan keluar.

Selain itu, dengan bertengkar, anak pun belajar mengendalikan diri. Yakni ketika orangtua memberikan contoh dengan bersikap tenang tanpa terpancing emosi saat anak-anaknya bertengkar. Orangtua meredakan pertengkaran anak-anaknya dengan mengajak mereka duduk untuk bicara. Di sini anak belajar bagaimana caranya mengendalikan diri dan mengelola emosinya. Anak diajarkan cara mengatasi konflik dengan cara lain tanpa kekerasan maupun kekuasaan.

 

Sumber : Nakita

Tue, 22 Nov 2011 @14:45


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar